Selasa, 08 Mei 2012

Pendidikan Komparatif


METODE KOMPARASI PENDIDIKAN
A.    Sendi – sendi dalam komparasi Pendidian
Studi Pendidikan komparatif yang semula lebih bersifat praktis ( practical studies ) kemudian lambat laun menjadi lebih bersifat keilmual ( scientific studies ) dengan menekankan penggunaan metode ilmiah ( scientific method ).
Para ahli dalam pendidikan komparatif adalah John Griscom, Victor Cousin, Horace Mann, dan Matthew Arnold adalah tokoh – toko yang mempelajari sistem pendidikan perbandingan yang lebih bercorak kepraktisan.
1.      Tiga Tahap komparasi dalam Pendidiakan
·         Awal ( Tahap ini yaitu “Borrowing” ) Pada tahap ini suatu negara dalam membangun dan memperbaiki sistem pendidikannya dilakukan dengan cara melihat sistem pendidiakn negara lain yang dianggapnya lebih baik, kemudian diadopi untuk diterapkan dinegaranyasendiri. Para ahli dalam tahap ini adalah Matthew Arnold dari inggris, Victor Cousin dari Perancis, Leo Tolstoy dan KD. Unshinsky di RusiaDomingo Sarmineto di Argentina, Horacu Mann dan Henry Barnard di Amerika.
Kelemahan dalam tahap ini adalah tidak semua memiliki latar belakang yg sama oleh karena itubapa yang dinggap baik ditempat lain tidak mesti baik diterapkan ditempatnya sendiri.
( tahun 1817 oleh Antoine Julien di Paris sampai 1930-an )
·         Kedua ( tahap ini yaitu “ Predicting” )
Dalam tahap ini perbaikan – perbaikan pendidikan dinegaranya dilakukan dengan dibarengi usaha mempertimbangkan masak – masak entang kemungkinan keberhasilan dan kegagalannya.
Beberapa langkah dalam tahapan ini:
a.       Awareness ( Kesadaran )
Adanya kesadaran bahwa system pendidikan negaranya mengalami stagnasi bahkan kemunduran dibandingkan Negara lainnya.
b.      Interest ( Keinginan )
Setelah menyadari kelemahan maka muncul keinginan pada Negara tersebut untuk memperbaiki system pendidikannya agar bisa maju spti Negara lain, bahkan lebih baik.
c.       Evaluation ( Evaluasi )
Pada tahap ini dilakukan dengan cara mencermati aneka teori dan praktek pendidikan yang ideal untuk bisa diterapkan dinegaranya dan melihat keberhasilan Negara lain dalam membangun pendidiakan.

d.      Trial ( Uji Coba )
Dari hasil evaluasi perbaikan dan pengkajian keberhasilan Negara lain selanjutnya diuji cobakan dibeberapa lokasi untuk bisa dilihat tingkat keberhasilannya dan kegagalannya.
e.       Adoption ( Peniruan untuk diterapkan )
Setelah diketahui keberhasilan uji coba, maka kemudian diadopsi untuk diterapkan diseluruh wilayah Negara.
( Berlangsung dati tahun 1930 – an sampai tahun 1960 – an )
·         Ketiga ( tahap ini yaitu “ analyzing” )
Pada tahap ini kegiatan perbaikan pendidikan dan upaya membandingkan system – system pendidikan dilakukan dengan cara mengamati pula keadaan pendidikan dari berbagai latar belakang historis, politis, ekonomis, dan sosio – kulturalnya. Upaya penganalisisan ini lebih mendasarkan pada penggunaan metode ilmiah.
( berlangsung dari tahun 1960 –an sampai 1990 – an )
2.       Syarat komparabilitas
Secara umum didalam ilmu pendidikan kkomparatif dikenal dengan adanya syarat kesebandingan ( comparability ) didalam upaya membandingkan dua atau lebih system pendidikan, agar upaya perbandingan aneka system pendidiakn yang dikukan akhirnya akan memperleh kebermanfaatan yang tinggi.
Diantara segi – segi kesebandingan atau komparabilitas dalam melakukan studi komparasi system pendidikan antar dua Negara atau lebih yang berbeda adalah :
1.      Segi kemajuan pembangunan
2.      Segi latar belakang sejarah
3.      Segi latar belakang ekonomi
4.      Segi letak geografis
Disamping itu ada satu hal yang juga penting dalam studi perbandingan dan upaya  membandingkan dua system pendidikan antar dua Negara atau lebih Negara yang berbeda, yaitu dua dimensi yang perlu ditentukan ; dimensi ruang ( menyangkut seberaba luas atau banyak Negara yang ingin diteliti atau dibandingkan ) dan dimensi waktu ( menyangkut periode waktu atau rentang waktu yang perlu ditenmtukan terlebih dahulu.
B.     Metode – metode Studi dalam Komparasi Pendidikan
Menurut Debold Van Dalen dalam “Understanding Educational Research” menyebutkan metode ilmiah yang lazim digunakan dalam studi – studi pendidiakn komparatif adalah :
1.      Metode Historis
Metode historis digunakan untuk menemukan fakta – fakta pendidiakan masa lampau dalam rangka mencari keterkaitan dengan kondisi pendidikan sekarang bahkan juga untuk masa mendatang.
Jalan yang ditempuh dalam metode historis:
a.       Memilih problem yang kana diteliti
b.      Mengumpulkan sumber – sumber bahan (sources materials)
c.       Penilaian dan pengujian sumber – sumber data yang terkumpul, yang dilanjutkan dengan penyajian.
d.      Menentukan hipotesis untuk menjelaskan hakekat dari fenomena – fenomena pendidikan yang sudah lampau.
e.       Melakukan penafsiran atas bahan – bahan yang telah terkumpul secara mendalam atau juga penyusunan bahan – bahan.
f.       Menyimpulkan dan membuat laporan mengenai temuan – temuannya.
2.      Metode Deskriptif
Metode ini dilakukan denagn cara menggambarkan dan menguraikan apa adanya yang terjadi pada obyek yang diteliti secara mendetail. Metode penelitian ini mencakup beberapa metode antara lain : ( 1 ) studi kasus, (2) survey, (3) studi perkembangan, (4) studi tindak lanjut, (5) analisis dokumen, (6) studi korelasi, (7) studi aliran atau trend.
Metode ini bertujuan untuk menggambarkan suatu fakta pendidiakn baik dalam satu segara maupun antar Negara.

3.      Metode Eksperimen
Metode ini dilakukan dengan cara menspesifikasikan obyek yang diteliti melalui tindakan mengeliminasi variable – variable yang ada darti veriabel lain.
Tujuan dari metode ini adalah untuk menentukan apa yang dapat terjaid dari percobaan – percobaan yang dilakukan.
4.      Metode Filosofis
Metode ini berusaha menemukan prinsip – prinsip atau konsep – konsep yang mendasar tentang system pendidikan disuatu Negara atau beberapa Negara, tentang konsep manusia yang dicita – citakan melalui praktek pendidikan disuatu Negara.
Donald Ary dkk, dalam “ Introduction to Research in Education” (1985), menyebutkan metode ilmiah dalam studi pendidikan komparatif adalah :
1)      Metode eksperimental
Metode ini dilakukan dengan jalan menspesifikasikan obyek penelitiannya melalui pengeliminasian variable – variable dari obyek yang dikaji terhadap variable atau factor. Tujuan metode ini adalah menentukan apa yang dapat terjadi dari percobaan – percobaan yang dilakukan. 
2)      Metode Ex Post Facto
Metode ini dilakukan dengan cara melihat obyek spesifik yang diteliti yangs udah dieliminasikan dari variable atau factor lain tetapi tidak melalui percobaan – percobaan yang dilakukan peneliti.
3)      Metode Deskriptif
Metode ini merupakan metode pendidikan koparatif yang dilakukan dengan cara menggambarkan dan menguaraikan apa adanya yang terjadi pada obyek penelitian secara mndetail.
4)      Metode Historis
Metode yang dilakukan dengan jalan menerangkan apa yang sudah terjadi.
Menurut Imam Barnadib ( 1994 ) yang mengutip pendapat George ZF. Bereday, ada dua metode yang digunakan dalam studi perbandingan , yaitu:
5.      Metode area
Studi area dilakukan dengan cara : (a) studi latar belakang Negara, (b) deskripsi system pendidikan pada masing – masing Negara tersebut, dan (c)menarik interpretasi.
6.      Metode komparasiyang lebih sempit, mesalnya
Metode komparasi merupakan metode yang dilakukan dengan area wilayah misalnya hanya dua desa atau propinsi atau kawasan atau Negara tetapi dengan tekanan pada studi yang lebih mendalam . secara garis besar metode komparasi dilakukan dengan empat cirri pentong, yaitu : (a) deskripsi data pendidikan, (b) interpretasi, (c) juxtaposisi, dan (d) komparasi.
C.    Pengembangan Metode dalam Melakukan Kompasi Pendidikan
George ZF. Bereday (1964) sebagai professor dibidang pendidiakn komparatif dari Columbia University Amerika Serikat mengembangkan satu metode yang disebut dengan Metode Induktif Komparasi, yang memiliki langkah – langkah procedural yang meliputi:
1.      Penggalian data
Dilakukan dengan cara dating kelokasi penelitian lalu berdiam aatu tinggal beberapa waktu dilokasi tersebut agar bisa merekam lebih lengkap data yang dicari. , selain itu peneliti harus menguasai bahan dan focus yang diamati.
2.      Deskripsi data
Dilakukan dengan cara menyajikan semua data yang diperoleh menurut kelompok – kelompok data berdasarkan klasifikasi yang dibuat dalam bentuk table, teks, atau uraian, serta peta.
3.      Interpretasi
Upaya interpretasi atau penafsiran ini dilakukan dengan cara melakukan analisis konteks, baik analisis aspek histori, aspek politik, aspek ekonomi, maupun aspek social.
4.      Juxtaposisi
Pada tahap ini yang perlu dilakukan adalah menysusn sebuah kerangka kerja perbandingan secara umum ( common comparative framework ). Dapat diartika juga upaya menentukan dimensi – dimensi komparasi, yaitu menentukan hal – hal apa yang akan dikomparasikan, seperti, informasi umum pendidikan, inisiatif reformasi pendidikan, dll.
5.      Prumusan hipotesis
Kegiatan ini merupakan cara untuk menemukan hasil kompasari yang masih bersifat sementara setelah peneliti melakukan kegiatan juxtaposisi.
6.      Komparasi Final
Kegiatan komparasi final dilakukan dengan cara menganalisis secara cermat dan mendalam perbandingan pendidikan antara dua daerah atau Negara dalam rangka mencari dan menemukan dua hal yaitu persamaan dan pertidaksamaan.
7.      Akhir dari semua proses penelitian induktif komparasi adalah dihasilkannya perumusan kesimpulan berupa generalisasi ( kesimpulan umum tentang kondisi pendidikan relative sama yang ada pada setiap daerah atau Negara yang sedang dibandingkan, dan tipologi ( kesimpulan spesifik atau khas kondisi pendidikan yang ada pada setiap daerah atau Negara.
Ada tiga cara dalam proses analisis komparasi pendidikan menurut Val D. Rust (2003), yaitu:
1.      Analisis yang paling konvensional adalah analisis menemukan persamaan dan perbedaan pendidikan antara dua daerah atau Negara atau wilayah – wilayah dunia.
2.      Analisis terhadap suatu Negara secara tunggal, kemudian dilanjutkan pada Negara lain di luara Negara yang bersangkutan, serta dilanjutkan lagi pada Negara lain untuk suatu pokok penelitian.
3.      Analisis komparasi pendidikan dapat pula dilakukan pada satu Negara untuk menguji teori yang lebih umum.

0 komentar:

Poskan Komentar